Syamsul Bahri, S.Pd., M.AP adalah maestro Saman asal Tanoh Gayo yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pelestarian, pengembangan, dan diplomasi budaya Saman di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Kecintaannya pada seni dimulai sejak usia sekolah, khususnya pada masa pendidikannya di SPGN Kutacane, di mana ia aktif tampil dalam berbagai kegiatan seni daerah.

tahun 1984 ketika pestival saman dan bines di Aceh Tenggara, masa sekolah di SPGN Kuta Cane,

Jejak penting dalam karier seninya tercatat pada tahun 1984, ketika ia tampil dalam Festival Saman dan Bines di Aceh Tenggara, momen yang mengukuhkan langkah awalnya sebagai penari Saman berbakat. Seiring waktu, kemampuan dan pemahamannya terhadap pakem, syair, tempo, formasi, serta nilai budaya dan ruh islami dalam tarian Saman semakin matang.

bersama Bpk Syeh Achmadin Kakandepdikbud Aceh Tenggara ketika Saman Thn 1990 Newyork Amerika,

Pada tahun 1988, ia bersama Atip Usaman dan beberapa seniman muda Gayo lainnya mendirikan Sanggar Seni Rempelis Mude. Sanggar ini menjadi wadah pembinaan dan pelestarian seni tradisi Gayo. Melalui berbagai pentas dan pelatihan, nama sanggar dan kemampuan Syamsul Bahri semakin dikenal luas.

penutupan TMMD di Lhoukseumawe.

Puncak awal kiprahnya di panggung internasional terjadi pada tahun 1990, ketika ia terpilih mengikuti rombongan kesenian bersama Syeh Achmadin (mantan Kepala Kandepdikbud Aceh Tenggara) untuk tampil dalam pertunjukan Saman di New York, Amerika Serikat. Kepercayaan ini menjadikannya salah satu putra Gayo pertama yang memperkenalkan Saman ke publik global.

Tahun demi tahun, pengabdian dan kontribusinya terus berlanjut. Ia juga pernah berperan dalam berbagai kegiatan besar nasional, termasuk penampilan pada penutupan TMMD di Lhokseumawe, serta Pekan Kebudayaan Aceh ke-III dan berbagai event kebudayaan berskala provinsi, nasional, dan mancanegara.

Pada perkembangan berikutnya, sanggar berubah nama menjadi Sanggar Rempelis Gayo dan ditetapkan secara resmi melalui Surat Keputusan Pemerintah Daerah. Di bawah kepemimpinannya, sanggar ini menjadi pusat pendidikan, dokumentasi, dan kaderisasi pelaku seni Gayo, dengan pembinaan pada bidang seni suara, musik, tari, theater, hingga bordir tradisional.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade berkarya, Syamsul Bahri diakui sebagai: Penari dan pelatih senior, Penyusun metodologi latihan, Peneliti budaya, Kurator dan penjaga pakem dan Narasi referensi akademik tentang Saman

Perannya menjadikan dirinya bukan hanya maestro, tetapi juga pakar Saman Gayo yang dihormati dan menjadi rujukan dalam pendidikan, penelitian kebudayaan, hingga diplomasi budaya.

Bagi Syamsul Bahri, Saman bukan sekadar tarian, melainkan amanah leluhur, identitas, disiplin, dan sarana dakwah yang harus diteruskan lintas generasi. (Awg)