GAYO LUES, — Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Salid, S.Pd., M.M., mengapresiasi pelaksanaan Lomba Pidato Bahasa Daerah Gayo Lues Tahun 2026 yang digelar Komunitas Anakseribu Bukit melalui dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.

Menurut Salid, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga merupakan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, dan mencintai bahasa serta budaya Gayo.

“Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas kita. Ketika seorang anak mampu berdiri di depan orang banyak dan menyampaikan pidato dalam bahasa Gayo dengan percaya diri, sesungguhnya ia sedang menunjukkan bahwa budaya daerah kita masih hidup dan memiliki tempat di tengah perkembangan zaman,” ujar Salid saat menghadiri pembagian hadiah dan apresiasi kepada para pemenang, Rabu (07/10/2026)

Ia menilai, keberanian peserta tampil di hadapan publik merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, seluruh peserta patut mendapatkan apresiasi, bukan hanya mereka yang berhasil meraih juara.

Salid juga menyampaikan penghargaan kepada panitia, dewan juri, sekolah, guru pendamping, orang tua atau wali peserta, serta Komunitas Anakseribu Bukit yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurutnya, pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat perlu berjalan bersama agar bahasa dan budaya Gayo tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap digunakan dan diwariskan oleh generasi berikutnya.

Dinas Pendidikan Pastikan Kegiatan Berlanjut

Salah satu poin penting yang disampaikan Salid adalah komitmen Dinas Pendidikan untuk melanjutkan kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang.

Ia berharap Lomba Pidato Bahasa Daerah Gayo tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial pada 2026, tetapi berkembang menjadi bagian dari pembinaan generasi muda sekaligus upaya berkelanjutan dalam menjaga bahasa daerah.

“Saya berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada perlombaan hari ini saja. Mari kita jadikan momentum ini sebagai bagian dari gerakan bersama untuk terus menghidupkan bahasa daerah di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat Gayo Lues,” katanya.

Salid menambahkan, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat generasi muda semakin mudah berinteraksi dengan berbagai budaya dari luar. Kondisi tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan penguatan identitas dan kecintaan terhadap budaya sendiri.

“Kita ingin anak-anak Gayo Lues mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama tetap mengenal bahasa, adat, sejarah, dan budaya Gayo,” ujarnya.

Komitmen tersebut mendapat respons positif dari berbagai pihak yang selama ini memiliki perhatian terhadap pelestarian bahasa dan budaya Gayo. Komunitas Anakseribu Bukit juga diharapkan terus mengambil peran dalam menghadirkan ruang-ruang positif bagi generasi muda.

Nataysa Putri Raih Juara I

Dalam Lomba Pidato Bahasa Daerah Gayo Lues Tahun 2026, Nataysa Putri dari SMP Negeri 1 Blangkejeren berhasil meraih Juara I.

Posisi Juara II diraih Fatimah dari SMA Negeri 1 Kutapanjang, sedangkan Juara III diraih Naiyira Farzana dari SMPT Muhammadiyah Gayo Lues.

Sementara itu, Juara Harapan I diraih Riduansyah dari Dayah Babussalam Ume Serap, Juara Harapan II diraih Faizah Khayla dari SMP Negeri 4 Blangkejeren, dan Juara Favorit diraih Humaira Ariqah dari SMPT Muhammadiyah Gayo Lues.

Salid mengucapkan selamat kepada seluruh pemenang dan memberikan motivasi kepada peserta yang belum berhasil meraih juara.

Menurutnya, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keberanian untuk belajar, berlatih, kemudian berdiri dan berbicara menggunakan bahasa daerah di hadapan orang lain merupakan pengalaman berharga yang akan membentuk kepercayaan diri peserta.

Pelaksanaan lomba tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas untuk menghidupkan bahasa Gayo di sekolah, keluarga, komunitas, dan ruang-ruang publik.

Dengan dukungan pemerintah, satuan pendidikan, masyarakat, serta komunitas seperti Anakseribu Bukit, bahasa Gayo diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi terus tumbuh dan diwariskan sebagai bagian penting dari identitas Gayo Lues.

(Awg)

Bahasa adalah identitas. Ketika bahasa tetap hidup di lidah generasi mudanya, maka budaya pun memiliki masa depan.